Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 24 November 2017

5.Beaufort Cipher

Bukan hanya viginère cipher, berikut ini juga merupakan cipher berasal dari negara Prancis. Karena berasal dari negara yang sama tentunya teknik enkripsi yang digunakan tidak terlalu jauh berbeda. Beaufort Cipher secara umum yaitu merupakan teknik enkripsi subtitusi yang berfungsi untuk menyamarkan suatu pesan tertentu dengan menggunakan tabel abjad dan keyword yang telah ditetapkan. Sama seperti viginère cipher, ini menggunakan tabel yang terdiri dari abjad a-z pada baris dan kolomnya yang sering disebut dengan tabula recta. Tabel ini juga memerlukan suatu keyword atau kata kunci dalam mengenkripsi atau decipher pesan yang tersembunyi tersebut. 

4.Vigènere Cipher

Kode vigènere termasuk kode abjad-majemuk (polyalphabetic substitution cipher). Dipublikasikan oleh diplomat (sekaligus seorang kriptologis) Perancis, Blaise de Vigènere pada abad 16, tahun 1586. Sebenarnya Giovan Batista Belaso telah menggambarkannya untuk pertama kali pada tahun 1533 seperti ditulis di dalam buku La Cifra del Sig. Algoritma ini baru dikenal luas 200 tahun kemudian dan dinamakan kode vigènere. Vigènere merupakan pemicu perang sipil di Amerika dan kode vigènere digunakan oleh Tentara Konfederasi (Confederate Army) pada perang sipil Amerika (American Civil War). Kode vigènere berhasil dipecahkan oleh Babbage dan Kasiski pada pertengahan abad 19. (Ariyus, 2008).

Algoritma enkripsi jenis ini sangat dikenal karena mudah dipahami dan diimplementasikan. Teknik untuk menghasilkan ciphertext bisa dilakukan menggunakan substitusi angka maupun bujursangkar vigènere. Teknik susbtitusi vigènere dengan menggunakan angka dilakukan dengan menukarkan huruf dengan angka, hampir sama dengan kode geser. 

3. Guaranteed Scheduling

Penjadwalan ini memberikan janji yang realistis (memberi daya pemroses yang sama) untuk membuat dan menyesuaikan performance adalah jika ada N pemakai, sehingga setiap proses (pemakai) akan mendapatkan 1/N dari daya pemroses CPU. Untuk mewujudkannya, sistem harus selalu menyimpan informasi tentang jumlah waktu CPU untuk semua proses sejak login dan juga berapa lama pemakai sedang login. Kemudian jumlah waktu CPU, yaitu waktu mulai login dibagi dengan n, sehingga lebih mudah menghitung rasio waktu CPU.


Karena jumlah waktu pemroses tiap pemakai dapat diketahui, maka dapat dihitung rasio antara waktu pemroses yang sesungguhnya harus diperoleh, yaitu 1/N waktu pemroses seluruhnya dan waktu pemroses yang telah diperuntukkan proses itu. Rasio 0,5 berarti sebuah proses hanya punya 0,5 dari apa yang waktu CPU miliki dan rasio 2,0 berarti sebuah proses hanya punya 2,0 dari apa yang waktu CPU miliki. Algoritma akan menjalankan proses dengan rasio paling rendah hingga naik ketingkat lebih tinggi diatas pesaing terdekatnya. Ide sederhana ini dapat diimplementasikan ke sistem real-time dan memiliki penjadwalan berprioritas dinamis.

2.Priority Scheduling

Algoritma Priority Scheduling ini adalah suatu kasus khusus dari penjadwalan berprioritas. Tiap-tiap proses dilengkapi dengan nomor prioritas (integer). CPU dialokasikan untuk proses yang mempunyai prioritas paling tinggi (nilai integer terkecil biasanya merupakan prioritas terbesar). Nah, kalau beberapa proses memiliki prioritas yang sama, maka akan digunakan algoritma FCFS.
Priority Scheduling ini juga memiliki dua skema :
  1. non-preemptive
  2. preemptive
Jika ada proses P1 yang datang pada saat P0 sedang berjalan, maka yang akan dilihat adalah prioritas P1. Tapi seandainya prioritas P1 lebih besar dibanding dengan prioritas P0, maka :
  1. Pada non-preemptive, algoritma tetap akan menyelesaikan P0 sampai habis CPU burst-nya, dan meletakkan P1 pada posisi head queue.
  2. Sedangkan pada preemptive, P0 akan dihentikan dulu, dan CPU ganti dialokasikan untuk P1. Misalnya terdapat lima proses P1,P2,P3, P4 dan P5 yang datang secara berurutan dengan CPU burst dalam milidetik.

1. Shortest Remaining Time

Shortest remaining time merupakan algortima yang eksekusi proses diatur berdasarkan perkiraan sisa waktu terkecil
Proses yang baru masuk dapat langsung dieksekusi bila total waktu eksekusinya lebih kecil daripada sisa waktu proses yang sedang running dan merupakan model preemtivenya SPN.

Kekurangan dari shortest remaining time
  • terjadi overhead akibat scheduler harus menghitung/memperkirakan sisa waktu eksekusi setiap proses untuk menentukan sisa waktu yang terkecil
  • dapat terjadi starvation pada proses yang panjang
  • proses yang panjang dikalahkan oleh proses yang kecil
Kelebihan dari shortest remaining time
  • Kualitas layanan rata rata yang diterima proses lebih baik
  • Throughput tinggi
  • Response time cepat